JAKARTA – Air yang mengalir dari keran rumah warga Jakarta bergantung pada sistem yang jauh lebih rumit daripada sekadar pipa bawah tanah. Ada jaringan yang harus diperluas, kebocoran yang mesti dicari, tekanan air yang perlu dijaga, serta infrastruktur lama yang terus dirawat.
Semua pekerjaan itu bertemu pada satu target besar: PAM JAYA mengejar cakupan layanan air perpipaan 100 persen pada 2029.
Di bawah kepemimpinan Arief Nasrudin, PAM JAYA terus mendorong perluasan jaringan sekaligus memperkuat infrastruktur untuk menjangkau wilayah yang belum mendapatkan layanan secara optimal. Arief Nasrudin tercatat menjabat sebagai Direktur Utama PAM JAYA sejak Juli 2022.
Hingga pertengahan 2026, cakupan layanan telah berada di kisaran 82 persen atau menjangkau sekitar 8,9 juta jiwa.
Angkanya memang terus bergerak naik. Tantangan berikutnya justru lebih rumit. Sambungan baru harus bertambah tanpa membuat kualitas layanan yang sudah berjalan ikut menurun.
Kebocoran Jaringan Masih Menjadi Pekerjaan Besar
Air sudah diproduksi, tetapi tidak semuanya sampai dan tercatat sebagai konsumsi pelanggan. Di sinilah persoalan non-revenue water atau NRW menjadi krusial.
NRW menggambarkan air yang telah masuk ke sistem, tetapi tidak menghasilkan pendapatan karena kebocoran pipa, masalah pencatatan, penggunaan ilegal, maupun gangguan distribusi lainnya.
Tingkat NRW PAM JAYA pada 2024 masih mencapai 46,2 persen. Targetnya cukup agresif: turun menjadi sekitar 9 persen pada 2029.
Selisih itu bukan angka kecil.
Semakin banyak air yang hilang di tengah jaringan, semakin sedikit pula volume yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. Menekan NRW berarti memaksimalkan air yang sudah diproduksi sebelum berbicara soal menambah kapasitas baru.
Pekerjaannya berlangsung dari berbagai sisi. Rehabilitasi jaringan distribusi dilakukan bersamaan dengan pembentukan District Metered Area (DMA), penggantian meter pelanggan, hingga pemantauan jaringan secara digital.
Pembenahan layanan memang tidak cukup hanya lewat penambahan jaringan. Gangguan dan kebocoran perlu ditekan agar air yang sudah diproduksi tidak hilang sebelum sampai ke masyarakat.
Jaringan Pipa Masih Harus Bertambah Ribuan Kilometer
Jakarta punya persoalan lain: jaringannya belum menjangkau seluruh wilayah.
Pada Juli 2026, jaringan perpipaan PAM JAYA tercatat telah mencapai sekitar 13.200 kilometer. Demi mengejar cakupan pelayanan penuh, ribuan kilometer jaringan baru masih harus dibangun dalam beberapa tahun berikutnya.
Prioritasnya jelas. Wilayah yang selama ini belum menikmati akses air perpipaan secara optimal perlu mendapat sambungan lebih luas.
Jakarta Timur dan Jakarta Selatan termasuk kawasan yang masih membutuhkan penyisiran jaringan. Imbasnya terasa langsung di permukaan: pembangunan pipa dan galian pada sejumlah ruas jalan sulit sepenuhnya dihindari.
Di kota sepadat Jakarta, menggali jalan bukan perkara sederhana.
Di bawah aspal sudah terdapat berbagai jaringan utilitas. Di atasnya, lalu lintas tidak pernah benar-benar sepi. Belum lagi bangunan yang rapat dan kebutuhan menjaga layanan yang sudah berjalan.
Tantangannya bukan sekadar memasang pipa baru, melainkan memastikan pekerjaan selesai cepat, terukur, dan tidak membuat gangguan berkepanjangan bagi warga.
Infrastruktur Lokal Menjembatani Wilayah yang Belum Terhubung
Menunggu jaringan utama menjangkau seluruh kota bukan satu-satunya pilihan.
PAM JAYA juga mengembangkan instalasi pengolahan air komunal maupun portabel. Langkah ini menjadi jalan tengah bagi masyarakat yang belum sepenuhnya terhubung ke sistem perpipaan utama.
Pendekatan tersebut pernah dijelaskan Arief Nasrudin. Direktur Utama PAM JAYA itu menyebut perusahaan tidak hanya mengandalkan instalasi pengolahan air skala besar, tetapi juga mengembangkan IPA komunal untuk menjangkau kawasan yang belum terlayani.
Salah satu contohnya berada di Semanan, Jakarta Barat.
Instalasi Pengolahan Air Portabel Semanan memiliki kapasitas empat liter per detik dan melayani 295 pelanggan. Sumber air bakunya berasal dari Anak Kali Semanan dan Waduk Aseni.
Di kawasan yang sama, reservoir juga dipersiapkan bersama Kementerian Pekerjaan Umum. Kapasitas tampungan direncanakan berkembang hingga 24 juta liter secara bertahap, sedangkan tahap awal berupa tampungan delapan juta liter ditargetkan selesai pada Mei 2027.
Skema ini menunjukkan satu hal: layanan air Jakarta tidak bisa bergantung pada satu jenis infrastruktur.
Jaringan pipa, instalasi pengolahan, reservoir, sumber air baku, dan sistem distribusi harus bekerja sebagai satu kesatuan. Jika salah satu tersendat, dampaknya bisa terasa sampai ke pelanggan.
Jaringan yang Makin Panjang Perlu Pengawasan Lebih Cepat
Semakin panjang pipa, semakin besar pula wilayah yang harus diawasi.
Cara lama yang mengandalkan pemeriksaan manual saja akan sulit mengimbangi skala jaringan. Data akhirnya memegang peranan besar.
Pada 2026, PAM JAYA mulai memperkuat transformasi digital melalui sistem ERP Fusion. Sistem tersebut digunakan untuk mengintegrasikan berbagai proses dan data perusahaan agar pengelolaan operasional serta pelayanan bisa berlangsung lebih terhubung.
Layanan pelanggan juga mulai didukung teknologi berbasis kecerdasan buatan melalui AI Call Center.
Bagi pelanggan, perubahan semacam ini mungkin tidak selalu terlihat. Dampaknya justru terasa ketika gangguan bisa diketahui lebih cepat, laporan lebih mudah ditelusuri, dan respons lapangan dapat diarahkan ke titik yang tepat.
Pemantauan digital juga berkaitan langsung dengan upaya menekan NRW. Data tekanan jaringan, konsumsi pelanggan, meter air, dan pembagian zona distribusi dapat mempersempit lokasi masalah sebelum tim lapangan melakukan pemeriksaan.
Lebih cepat ditemukan, lebih cepat ditangani.
Air Perpipaan Juga Berkaitan dengan Penggunaan Air Tanah
Target cakupan 100 persen tidak berhenti pada urusan pelayanan rumah tangga. Ada persoalan lingkungan yang ikut membayangi Jakarta.
Semakin luas jaringan air perpipaan, semakin besar peluang masyarakat mengurangi ketergantungan pada air tanah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mendorong pengurangan penggunaan air tanah secara bertahap, terutama di kawasan yang sudah memperoleh suplai air perpipaan.
Persoalannya sudah lama dikenal. Pengambilan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan muka tanah Jakarta.
Komitmen mengurangi ketergantungan terhadap air tanah juga menjadi perhatian PAM JAYA. Pada Januari 2026, Arief Nasrudin menegaskan pengelolaan air perlu memperhatikan dampak lingkungan, termasuk risiko dari penggunaan air tanah secara berlebihan.
Itulah sebabnya jaringan air perpipaan punya fungsi yang lebih luas daripada sekadar menyediakan air di rumah.
Ketika akses perpipaan semakin merata, warga punya alternatif yang lebih kuat untuk mengurangi penggunaan air tanah. Pada skala kota, perubahan tersebut ikut mendukung ketahanan air dan keberlanjutan Jakarta dalam jangka panjang.
Target 2029 Bukan Sekadar Soal Menambah Panjang Pipa
Menambah jaringan memang mudah dihitung. Kilometer pipa bisa dicatat, jumlah sambungan dapat dipantau, dan cakupan pelanggan terlihat dalam persentase.
Namun, warga merasakan kualitas layanan dengan ukuran yang berbeda.
Air harus benar-benar mengalir. Tekanannya perlu memadai. Gangguan tidak boleh berlarut-larut. Kebocoran mesti terus ditekan.
Di titik itulah target layanan air minum perpipaan 100 persen pada 2029 mendapat makna yang lebih utuh.
Bagi Direktur Utama PAM JAYA dan seluruh jajaran perusahaan, pekerjaan menuju 2029 bukan hanya mengejar jumlah sambungan. Rehabilitasi pipa, penurunan NRW, pembangunan sumber pasokan baru, reservoir, hingga sistem pemantauan perlu bergerak bersama.
Target akhirnya sederhana, meski pekerjaan di belakangnya tidak pernah sederhana.
Warga membuka keran, lalu air mengalir sebagaimana mestinya.
