Arief Nasrudin Perkuat Tata Kelola PAM JAYA Menuju Layanan Air Penuh 2029

JAKARTA – PAM JAYA menargetkan cakupan layanan air minum perpipaan 100 persen pada 2029. Untuk mendukung sasaran tersebut, perusahaan menempatkan pembenahan tata kelola sebagai bagian dari penguatan proses bisnis dan pengambilan keputusan.

Menurut pemberitaan detikNews pada 8 Oktober 2026, PAM JAYA memperoleh skor Good Corporate Governance atau GCG sebesar 87,099 dengan predikat “Sangat Baik” untuk tahun 2025. Skor itu meningkat dari 85,9 pada 2024. BPKP Perwakilan Provinsi DKI Jakarta melakukan penilaian tersebut.

Tahun penilaian dan tanggal pemberitaan perlu dibedakan: angka 87,099 merupakan hasil GCG 2025 yang diberitakan pada Oktober 2026. Angka tersebut juga merupakan skor tata kelola, bukan persentase cakupan layanan air.

Bagi warga Jakarta, perkembangan ini perlu dibaca bersama hasil pelayanan. Penguatan proses internal memiliki arti ketika perusahaan mampu menghubungkannya dengan perluasan jaringan dan tindak lanjut kebutuhan pelanggan.

Arief Nasrudin Menempatkan Tata Kelola sebagai Fondasi

Kolaborasi PAM Jaya dan BPKP Jakarta
Kolaborasi PAM Jaya dan BPKP Jakarta

Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menyampaikan bahwa kenaikan skor GCG mencerminkan upaya membangun perusahaan yang lebih sehat, transparan, akuntabel, dan tertata.

Dalam keterangan yang diberitakan detikNews, Arief menghubungkan pembenahan tata kelola dengan penguatan kepercayaan dan kemampuan perusahaan melayani masyarakat. Pernyataan itu menunjukkan arah yang ingin dibangun manajemen, bukan bukti bahwa seluruh persoalan pelayanan telah selesai.

Dalam konteks perluasan layanan air, kejelasan tanggung jawab dan dasar pengambilan keputusan menjadi kebutuhan penting. Manajemen perlu mengetahui siapa yang menangani pekerjaan, bagaimana perkembangannya, serta tindakan yang diperlukan ketika muncul kendala.

Secara editorial, hubungan tersebut menjelaskan fungsi tata kelola sebagai dasar pengawasan. Namun, untuk menilai keberhasilan pelaksanaannya pada PAM JAYA, publik tetap membutuhkan data pekerjaan dan pelayanan yang lebih spesifik.

Membaca Skor GCG Secara Proporsional

Kenaikan dari 85,9 menjadi 87,099 menunjukkan perbaikan hasil penilaian tata kelola PAM JAYA. Meski demikian, skor GCG dan hasil pelayanan menjawab pertanyaan yang berbeda.

Predikat “Sangat Baik” tidak dengan sendirinya membuktikan penghematan anggaran, ketepatan waktu seluruh proyek, atau kepastian pencapaian target 2029. Masing-masing membutuhkan bukti sesuai bidang yang dinilai.

Untuk membaca perkembangan perusahaan secara lebih utuh, pembaca dapat membedakan informasi berikut:

  • Hasil penilaian tata kelola menunjukkan capaian dalam lingkup assessment GCG.
  • Realisasi anggaran membantu pembaca menilai penggunaan dana, dengan memperhatikan rencana dan hasil pekerjaan.
  • Perkembangan pembangunan jaringan membantu menjelaskan kemajuan pekerjaan menuju perluasan layanan.
  • Data cakupan dan penanganan gangguan membantu pembaca melihat perkembangan pelayanan kepada pelanggan.

Daftar tersebut merupakan panduan membaca informasi, bukan laporan hasil operasional PAM JAYA. Naskah ini tidak memuat data yang cukup untuk menyimpulkan pencapaian pada keempat bidang tersebut.

BPKP Menekankan Konsistensi Pelaksanaan

Dalam pemberitaan VOI pada 8 Oktober 2026, Kepala Perwakilan BPKP DKI Jakarta Sofyan Antonius menekankan konsistensi penerapan prinsip GCG. Prinsip yang ia sebut mencakup transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran.

Sofyan juga mengaitkan penguatan tata kelola dengan persiapan transformasi kelembagaan PAM JAYA. Pernyataan tersebut menempatkan pelaksanaan prinsip sebagai perhatian utama, melampaui kelengkapan dokumen.

Sebagai ilustrasi, sebuah pekerjaan pembangunan jaringan dapat menghadapi keterlambatan. Pengawasan perlu membantu manajemen membedakan kendala perencanaan, koordinasi, pengadaan, atau pelaksanaan sebelum menentukan tindakan perbaikan.

Contoh itu tidak merujuk pada proyek tertentu di PAM JAYA. Fungsinya menjelaskan mengapa informasi yang dapat ditelusuri dan pembagian tanggung jawab penting dalam pengelolaan pekerjaan.

Budaya BERKOMITMEN Mendukung Pekerjaan Sehari-hari

Menurut keterangan Arief yang diberitakan detikNews, penguatan tata kelola PAM Jaya juga sejalan dengan budaya kerja BERKOMITMEN.

Laman resmi Visi & Misi PAM JAYA memuat enam unsur budaya tersebut: Berani, Kolaborasi, Manfaat, Integritas, Taat, dan Meningkatkan. Integritas menekankan kejujuran serta tanggung jawab, sedangkan Taat mengarahkan perilaku pada pedoman dan peraturan yang berlaku.

Sebagai contoh penerapan yang relevan bagi perusahaan layanan publik, nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan melalui:

  • Pencatatan pekerjaan dan laporan pelanggan secara jelas agar petugas dapat menelusuri tindak lanjutnya.
  • Penyampaian kendala sejak awal agar tim memiliki kesempatan menentukan penanganan.
  • Koordinasi antartim untuk memperjelas pembagian tugas dan perkembangan pekerjaan.

Contoh tersebut merupakan interpretasi editorial, bukan hasil pengamatan atas praktik internal PAM JAYA. Keberadaan nilai perusahaan perlu dibedakan dari bukti konsistensi penerapannya.

Menuju 2029, Kemajuan Layanan Menjadi Perhatian

Target cakupan layanan air minum perpipaan 100 persen pada 2029 tetap merupakan sasaran yang ingin dicapai PAM JAYA. Pemberitaan mengenai kenaikan skor GCG menempatkan pembenahan tata kelola sebagai salah satu upaya pendukungnya.

Bagi warga, pertanyaan pelayanan tetap konkret: apakah sambungan tersedia, bagaimana kondisi aliran air, dan bagaimana perusahaan menindaklanjuti laporan gangguan? Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan informasi layanan yang terukur.

Kenaikan skor GCG menjadi catatan positif dalam penilaian tata kelola PAM JAYA. Langkah berikutnya perlu mempertemukan pembenahan internal dengan kemajuan pelayanan, sehingga publik dapat membaca perkembangan menuju 2029 melalui bukti hasil di lapangan.

Tinggalkan komentar